Konflik Sosial dalam Aksi Demonstrasi di Kazakhstan
Suatu peristiwa yang
menjadi perbincangan hangat di berbagai penjuru dunia tak terkecuali di
Indonesia mengenai aksi demonstrasi besar-besaran yang terjadi di negara tak
berlaut, Kazakhstan. Aksi demo yang terjadi pada awal tahun 2022 ini (2/1/2022)
di mula karena menentang kebijakan akan kenaikan harga bahan bakar gas
cair/LPG. Unjuk rasa terjadi pada awalnya di wilayah Magystau, Kazakhstan Barat.
Aksi unjuk rasa ini kemudian mendapat tanggapan dari Pemerintah Republik
Kazakhstan dan segera mengambil tindakan dalam menurunkan harga gas serta
memberlakukan penangguhan kenaikan harga bahan bakar, produk makanan dan
utilitas penting lainnnya. Namun ternyata, aksi demo menjalar hingga ke
kota-kota lain, hingga ke Almaty, kota besar sekaligus Ibukota finansial
Kazakhstan. Aksi demonstrasi brutal dan besar ini tak pelak menewaskan puluhan
demonstran, hingga bubarnya kabinet pemerintahan.
Kerusuhan yang terjadi
di Kazakhstan ini dapat dikatakan sebagai suatu bentuk konflik sosial. Konflik
sosial sendiri secara umum disebabkan oleh tiga hal, yaitu perbedaan
kepentingan, perbedaan pendapat, dan kecemburuan sosial. Di mana peristiwa yang
terjadi di Kazakhstan ini dapat dilihat terjadi karena adanya perbedaan
pendapat antara warga masyarakat dengan elit politik sebagai pemangku
kebijakan. Tidak hanya itu, menjalarnya aksi demo hingga ke Ibukota, kendati
perubahan kebijakan telah terjadi, ternyata disebabkan oleh ketidakpuasan
masyarakat terhadap pemerintahan yang otoriter serta korup dengan hanya
menguntungkan sebagian kecil elit peguasa. Hal ini menunjukkan bahwa konflik
juga terjadi karena adanya kecemburuan sosial.
Aksi demonstrasi di
Kazakhstan ini juga bisa dianalisis melalui teori konflik sosial yang digagas
oleh Lewis A. Coser. Konflik sosial menurut Lewis adalah suatu cara masyarakat untuk
melakukan kompetisi dan menyampaikan pendapatnya, dan juga untuk menyatakan
kesukaan atau ketidaksukaan seseorang terhadap benda, pendapat ataupun seseorang
lainnya serta bagaimana cara untuk menyampaikan
ketidaksukaan atau penyelesaian dari permasalahan tersebut. Aksi unjuk rasa yang terjadi ini dapat digolongkan ke dalam konflik
realistisnya Lewis. Di mana konflik realistis merupakan konflik yang terjadi
karena adanya kekecewaan suatu pihak terhadap pihak lainnya. Hal ini sejalan dengan
melebarnya aksi demo yang disebabkan akar kemarahan atau kekecewaan mendalam masyarakat
Kazakhstan terhadap pemerintah dan perosalan kesenjangan sosial dalam
masyarakat.
Melalui
kejadian nyata yang berlangsung dalam kehidupan, seperti halnya demonstrasi
Kazakhstan ini dapat kita lihat bahwa teori sosiologi dalam hal ini teori
konflik sosial dapat digunakan dalam menganalisis kejadian-kejadian nyata yang
terjadi di dunia ini.
[Artikel
ditujukan untuk Ujian Akhir Semester mata kuliah Dasar-Dasar Jurnalistik]
Nadila
Ravika 1910821025

Komentar
Posting Komentar